Tan Malaka 1897-1949


Riwayat hidup Tan Malaka telah banyak ditulis oleh Harry A.Poeze dalam bukunya yang berjudul “Tan Malaka Pergulatan Menuju Republik”,yang terdiri dari dua jilid,”Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia” yang masih terbit dua jilid dan akan menyusul jilid berikutnya. Sedangkan Tan Malaka sendiri menggambarkan perjalanan hidupnya dalam buku dari “Panjara ke Penjara”yang terdiri dari tiga jilid, sedikit di bagian prolog Madilog.

Tan Malaka dilahirkan di daerah Sumatra Barat,tepatnya di daerah Minangkabau pada tanggal 2 Juni 1897.Ayahnya adalah seorang mantri kesehatan yang pernah bekerja untuk pemerintah setempat dan mendapatkan gaji beberapa gulden setiap hari (Pooze dalam Hari Eko Upono.2004).Tan Malaka mempunyai adik yang bernama Komarudin,dua anak laki-laki bagi masyarakat Minangkabau merupakan kesedihan yang luar biasa,karena nantinya anak laki-laki akan pergi berkelana sebagaimana adat yang berlaku di Minangkabau. Bagi seorang ibu mempunyai anak wanita adalah sebuah hal membanggakan daripada anak laki-laki. Budaya Minangkabau yang sangat kental dengan nuansa Islam membuat ayahnya menamakan Tan Malaka kecil dengan sebutan Ibrahim.Budaya Minangkabau yang islami juga memancar dalam kehidupan keluarga Tan Malaka. Hal ini digambarkan dalam artikel yang berjudul ”Islam dalam Tinjauan Madilog”.

Semenjak kecil Tan Malaka sudah mampu menafsirkan Al-Qur’an, sehingga dia ditasbihkan sebagai guru muda, tidak jarang ibunya menceritakan riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW yang sudah menjadi yatim piatu sejak kecil, hal ini menbuat Tan Malaka kecil menjadi terharu, nuansa kehidupan Islami keluarga Tan Malaka tetap melekat dan bersemayam dalam diri Tan Malaka, walaupun dia bergulat dengan berbagai pemikiran dan kejadian di Eropa yang puncaknya terjadi saat revolusi Rusia 1917, minatnya terhadap Islam tidak pernah luntur. Pada tahun 1903-1908 memasuki sekolah kelas dua. Ketajaman pemikiranya membuat para guru menyarankanya untuk melanjutkan ke Kweekschool (Sekolah Guru) For De Kock. Pada tahun 1912 Tan Malaka mendapatkan gelar Datuk Tan Malaka, gelar tersebut biasanya bersamaan dengan pertunangan yang telah diatur oleh orang tua, namun gelar tersebut ditolak oleh Tan Malaka karena dia tidak mau menjalin hubungan dan terikat. Sebenarnya dia sangat tertarik dengan salah satu murid sekolah guru, namun akhirnya rasa cinta tersebut tidak terjawab.

Menginjak usia remaja Tan Malaka melanjutkan sekolahnya ke Belanda dengan biaya yang dikumpulkan masyarakat di kampungnya dan jaminan keuangan yang diusahakan oleh lembaga para engku (pemuka adat) di Siliki yang semuanya biaya pendidikan tersebut menjadi hutang yang akan dibayar oleh Tan Malaka setelah kembali ke tanah air lagi. (Prabowo dalam Hari Eko Upono.2004:39.

Di Negara Belanda Tan Malaka masuk ke dalam sekolah untuk memperoleh gelar diploma guru kepala dan dia menyewa sebuah rumah dengan keadaan yang sangat memprihatinkan, ia tinggal dengan sebuah keluarga, yang nyoyanya adalah seorang buruh yang jujur sementara suaminya sedang dalam keadaan sakit bernama Van Der Mij, mereka mempunyai seorang anak, Tan Malaka menyebutnya Van Der Mij muda yang bisa membaca De Telegraf. Selain itu Tan Malaka juga mempunyai seorang teman bernama Herman, dia adalah pengikut setia Partai Sosialis Demokrat di Belanda. Dari sinilah pengaruh pemikiran barat mulai masuk kedalam benak pikiran Tan Malaka. Perlahan tapi pasti Tan Malaka kemudian dipengaruhi oleh buku-buku bacaan yang disodorkan oleh teman-temanya. Tan Malaka mulai tertarik dengan Federick Nietzche. Tan Malaka juga dibakar oleh revolusi perancis pada tahun 1912 dan mulai mendapatkan brosur-brosur dari Sosialisme Rusia. Setelah membaca brosur-brosur tersebut wawasan Tan Malaka mulai terbuka, dia menamakan Nietzhe sebagai thesis, Rousseu sebagai anti thesis, dan marx-engels sebagai sintesisnya, dalam proses pemikirannya. Walaupun dia sudah mengakui keunggulan maxisme-engels tetapi Tan Malaka tidak otomatis menjadi seorang komunis, menurut Poeze Tan Malaka menjadi seorang komunis secara tiba-tiba.( Hari Eko Upono.2004:40.

Tan Malaka mulai mengenal kaum intelektual Indonesia mulai bulan Desember 1916. Pada saat dia akan menempuh ujian bahasa melayu dan ilmu negeri dan bangsa. Ada kemungkiinan ia telah masuk indische vereninging (Himpunan Hindia) yaitu perkumpulan orang-orang Hindia (sebutan untuk Indonesia) di negeri Belanda. Dalam himpunan itu terdapat pemimpin-pemimpin seperti Suwardi Suryoningrat dan Gunawan Mangunkusumo, kemungkinan kedua tokoh ini berpengaruh dalam pemikiran Tan Malaka muda. Di tengah-tengah intensifnya Tan Malaka dalam dunia pergerakan di Belanda, dia dihadapkan pada hutang yang semakin membengkak, dia juga mendapatkan kritik dari gurunya karena tidak mau mengikuti ujian akta kepala untuk menjadi seorang guru. Pada tahun 1919 menjelang keberangkatanya pulang ke Hindia Belanda, Tan Malaka sering berdiskusi dengan tokoh kaum kiri di Negeri Belanda, Tan Malaka juga pernah berdiskusi dengan Snevliet (pendiir ISDV yang merupakan embrio PKI di Indonesia) dan seorang wartawan yang bernama Weissing.

Tan Malaka mulai mengabdikan ilmunya pertama di Deli, tepatnya daerah Sumatera Timur. Dia ditugasan segai guru anak-anak buruh perkebunan tembakau.Sebagai seorang yang baru Tan Malaka berkenalan dengan administrator yang bernama Graf, Istri Graf ini ahirnya menjadi teman diskusi Tan Malaka mengenai sosialisme. Di Deli Tan Malaka melihat sendiri bagaimana bangsanya ditindas dan diperlakukan seperti binatang. Di perusahaan milik kapitalisme Belanda ini dia menyaksikan proyek kapitalisme dalam bentuk yang paling kasar, penghisapan, rasialisme, tidak adanya perlindungan terhadap para pekerja adalah pemandangan yang biasa terjadi ( Hari Eko Upono.2004:43).

Tan Malaka mengajar pelajaran bahasa melayu, disamping itu Tan Malaka juga ikut dalam menyusun sistem pendidikan, terutama tujuan dibentuknya sekolah. Pertarungan dengan De Way membuat Tan Malaka mengunduran diri sebagai guru pada tahun 1921. Setelah berhenti dari pekerjaanya di Deli, Tan Malaka menetap di Medan, walaupun Tan Malaka berada di luar jawa, tetapi dia mengetahui bagaimana perkembangan perpolitikkan yang sedang terjadi di jawa. Di Medan dia sudah berhubungan dengan elit ISDV (Semaun, Sneevliet, dan Marco) melalui surat-menyurat. Tan Malaka juga aktif dalam proses perubahan nama ISDV. Dalam diskusinya dengan Semaun melalui surat dia mengusulkan nama ISDV diganti menjadi Partai Nasional Revolusioner, namun akhirnya ISDV berganti nama menjadi Perserikatan Komunis Hindia. Pada tahun 1921, Tan Malaka terjun ke gelanggang politik Jawa. Dia kemudian menuju Yogya. Melalui Sutopo (bekas redaktur kepala). Tan Malaka berkenalan dengan para tokoh teras di Jawa, diantaranya adalah Tjokroaminoto, Semaun, dan Darsono. Tidak lama setelah konggres SI di Yogya, Semaun mengusulkan dalam sebuah konggres tersebut agar dibentuk sebuah sekolah bagi anak-anak anggota SI. Tan Malaka dianggap orang yang cocok untuk memimpin sekolah tersebut, tidak lama setelah dipimpin oleh Tan Malaka sekolah tersebut mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini karena Tan Malaka memang sudah pernah berkecimpung didunia pendidikan sebelum dia terjun ke perpolitikan di Jawa. Malalui sekolah-sekolah ini doktrinasi ideology komunisme berjalan, murid-murid sekolah sering meneriakkan slogan-slogan komunis, dengan menggunakan kain merah di leher yang bertuliskan “Rasa Merdeka” mereka menyanyikan lagu ”Internationalite” dan mengumpulkan dana untuk sekolah SI (Shiraishi dalam Hari Eko Upono.2004:45).

Keberhasilan Tan Malaka dalam membangun sekolah rakyat akhirnya menaikkan posisinya. Kepergian Semaun ke Moskow secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya membuat PKI mengalami kekosongan. Krisis kader dalam PKI ini akhirnya membuat Tan Malaka dinobatkan sebagia ketua Partai Komunis Indonesia (Hari Eko Upono:2004:45). Pengangkatan Tan Malaka menjadi pimpinan PKI memang kelihatannya menguntungkan, karena sekarang Tan Malaka mempunyai pengaruh besar dalam tubuh PKI, namun hal ini sebenarnya merupakan pisau bermata dua apabila mengingat Tan Malaka juga berkecimpung di SI, karena pada saat itu ia harus menghadapi konfrontasi dari Serikat Islam yang berada dibawah pengaruh Haji Agus Salim (Tokoh yang dikenal anti komunis), Tjokroaminoto, dan Abdul Muis.

Kepemimpinan Tan Malaka yang mewarisi konflik persaingan elit PKI, berkisar seputar isu disiplin partai dan ateisme komunisme. Bukti dari persaingan memperebutkan pengaruh antara elit SI yang berseragam putihan (Muhammadiyah) dan SI yang berseragam abangan (PKI), karena pada masa sebelumnya keanggotaan lebih dari suatu organisasi sosial bukanlah suatu masalah “Banyak dari tokoh mereka termasuk juga para tokoh utamanya yang tetap mempertahankan keanggotaan gandanya di SI dan ISDV yang didominasi oleh orang Belanda , serta ISDP (Partai Sosial Demokrat Hindia) (Siraishi dalam Hari Eko Upono 2004:46). Walaupun dalam konggres CSI telah ditetapkan adanya disiplin partai, namun secara internal Tan Malaka sebenarnya sudah berusaha untuk menjaga persatuan tersebut pada rapat pimpinan PKI di Semarang pada tanggal 25 Oktober 1921 dan pada kongrgres PKI ke 8 di Semarang pada tanggal 25 Desember 1921 (Ranbe,dalam Hari Eko Upono,2004:46). Perpecahan kongsi PKI dan SI membuat Tan Malaka kecewa, baik pada PKI maupun pada SI. Tan Malaka menyalahkan Baars dan Darsono yang terjerumus dalam konflik yang berkepanjangan yang akhirnya menimbulkan isu disiplin partai. Usaha PKI untuk menyatu kembali dengan SI terlihat dari adanya usaha untuk menghapus cap anti Islam dengan diwujudkan ikut mendukung kaum muslimin mengadakan aksi melalui suatu komite Haji, yaitu perjuangan menaikkan kuota haji. Dukungan PKI ini berhasil menaikkan kuota haji, hal ini membuat Tan Malaka puas dan imbasnya bagi PKI adalah mumculnya kembali hubungan baik antara PKI dengan kaun muslimin yang sempat terjadi perselisihan, bahkan Tan Malaka sering diundang pemimpin-pemimpin Muhammadiyah untuk berbicara tentang komunis dan dia juga aktif dalam gerakan-pemogokan kaum buruh.

Perjalanan hidup Tan Malaka tahun-tahun antara 1922-1942 dijalani dengan penuh tantangan layaknya seperti tokoh protagonis dalam sebuah film, dia mengalami pengasingan layaknya seorang buronan penguasa, Dalam perjalanan hidupnya negara-negara seperti Belanda, Jerman, Moskow, Cina, Philipina, dan Thailand pernah dia singgahi dan pernah dia rasakan bagaimana atmosfer kehidupannya, hal inilah yang membuat Tan Malaka mempunyai banyak pengalaman. Pada tahun 1923 dia juga pernah diberi tugas menjadi pengawas partai-partai komunis oleh EKKI (komite eksekutif komunis internasional), dia juga mendirikan PARI (partai republic Indonesia) yang didirikan di Bangkok pada tahun 1927 sebagai organ pengganti PKI yang mengalami tekanan dari dalam negeri (Indonesia) sebagai akibat semakin tidak kondusifnya perpolitikan didalam negeri. Namun organisasi ini kurang berjalan dengan baik karena para tokohnya berada di luar negeri, contohnya Tan Malaka yang berada di Bangkok.
Pada saat menyerahnya pemerintahan jepang pada tahun 1942 Tan Malaka dengan susah payah kembali ke dalam negeri (Indonesia) melalui selat Malaka, hingga akhirnya dia kembali ke gelanggang perpolitikan di Jawa sesudah sempat tinggal di Medan. Di saat kekosongan kekuasaan, Tan Malaka sudah berinteraksi dengan para tokoh pemuda seperti Sukarni, Adam Malik, Chairul Saleh, dll. untuk segera memaksa Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan dengan segala konsekuensi yang siap ditanggung. Pada saat paska proklamsi Tan Malaka bertemu langsung dengan bapak proklamator Indonesia, setelah berdiskusi sesaat, tampaknya Sukarno kagum dengan pemikiran Tan Malaka, tanpa berkoordinasi dengan para tokoh yang lain Sukarno-Hatta membuat stetemen politik yang isinya apabila mereka (Sukarno-Hatta) ditangkap oleh pengadilan Internasional, maka kepemimpinan dalam negeri akan di serahkan kepada Tan Malaka. Testemen politik ini kemudian menjadi kontroversial, karena menurut musuh politik Tan Malaka disebut sebagai upaya kudeta.

Setelah kepemimpina negara dipegang oleh Syahrir,selaku perdana menteri, Tan Malaka mengambil sikap oposisi terhadap pemerintahan karena menganggap pemerintah terlalu lunak terhadap Belanda. Sikap oposisi ini terhimpun dalam PP (persatuan perjuangan) yang didirikan pada tahun 1946. Salah satu tuntutan dari PP adalah kemerdekaan 100%, jawaban pemerintah atas tuntutan ini adalah penangkapan Tan Malaka pada Maret 1946 (Hari Eko U:2004,hal 53).

Setelah mendekam di penjara selam tiga tahun,Tan Malaka dilepaskan pada tahun 1948 untuk mengatasi opsisi pemerintah pada saat itu yaitu pemberontakan PKI yang digalang oleh Musso dengan menggunakan wajah dan doktrin baru. Dalam penumpasan pemberontakan Madiun 18 September 1948 banyak anak buah Tan Malaka yang aktif didalamnya. Akhirnya gagasan persatuan kemerdekaan dilanjutkan Tan Malaka dengan mendirikan Partai Murba pada tanggal 17 November 1948 (Prabowo,dalam Hari Eko,2004,hal 54). Setelah mendirikan Partai Murba, Tan Malaka pergi ke daerah Jawa Timur untuk menggalang kekuatan Murba. Pada saat ini secara mendadak Belanda melancarkan Agresi Militer kedua pada tanggal 19 Desember 1949 dan menuntut semua anak bangsa yang ada di Jawa Timur untuk mengangkat senjata demi menghentikan Agresi Militer Belanda, tak terkecuali Tan Malaka yang pada saat itu berada dibawah perlindungan Batalion Sabarudin. Pada saat itu selain mendapat serangan dari Belanda, Batalion Sabarudin juga mendapatkan serangan dari satuan lain dari faksi TNI, akhirnya Tan Malaka dibawa oleh faksi tersebut, namun dia dapat melarikan diri karena pasukan yang membawa Tan Malaka mendapat serangan dari Belanda. Dalam pelarianya, Tan Malaka kembali ditangkap di kawasan Mojo (Kediri) oleh CPM (Prabowo dalam Hari Eko,2004,hal 55).

Dan akhirnya tokoh yang oleh Yamin disebut sebagai bapak Republik Indonesia ini harus menghembuskan nafas terakirnya ditangan anak bangsa sendiri tepatnya di desa Selopanggung kecamatan Semen Kabupaten Kediri. Sungguh ironis Tan Malaka yang berusaha berjuang untuk bangsa ini harus mati ditangan saudara sebangsanya sendiri, Tan Malaka yang sudah menulis sebuah artikel yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (menuju Republik Indonesia) tahun 1924.

Inilah salah satu kutipan Dari menuju Republik Indonesia "Pergerakan revolusioner di Indonesia selalu masih ada. Jika pergerakan ini hendak mendapatkan hasil, maka sekarang telah pada waktunya, kita menyusun program nasional dan mengumumkan program ini kepada seluruh rakyat".
Disqus Comments